Pernah merasa kesal karena hujan turun saat hendak pergi, pesan belum dibalas, atau rencana berubah mendadak? Kita sering menghabiskan banyak energi untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali.
Stoicism atau Stoisisme menawarkan cara pandang sederhana: fokuslah pada apa yang bisa kita lakukan dan belajarlah menerima apa yang tidak bisa kita ubah.
Karena Hidup Tidak Selalu Sesuai Rencana
Kehidupan modern penuh tekanan. Ada tuntutan pekerjaan, komentar di media sosial, masalah hubungan, hingga kekhawatiran tentang masa depan. Jika setiap masalah langsung ditanggapi secara emosional, pikiran kita akan cepat lelah.
Stoicism bukan ajaran untuk menjadi dingin atau tidak peduli. Kita tetap boleh merasa sedih, marah, takut, atau kecewa. Bedanya, kita belajar untuk tidak membiarkan emosi mengambil alih seluruh tindakan dan keputusan.
Dengan cara pandang ini, kita bisa menghadapi masalah dengan kepala yang lebih jernih.
Bermula dari Sebuah Serambi di Athena
Stoicism lahir di Athena sekitar awal abad ke-3 sebelum Masehi. Filosofi ini dirintis oleh Zeno dari Citium, yang mengajarkan pemikirannya di sebuah serambi bernama Stoa Poikile. Dari kata stoa inilah nama Stoicism berasal.
Ajarannya kemudian dikembangkan oleh sejumlah tokoh terkenal. Ada Seneca, seorang filsuf dan negarawan Romawi; Epictetus, yang pernah menjalani kehidupan sebagai budak; serta Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi.
Walaupun berasal dari latar belakang yang sangat berbeda, mereka membawa pesan yang sama: keadaan hidup boleh berubah, tetapi kita tetap bisa memilih sikap dalam menghadapinya.
Pisahkan yang Bisa Diatur dan yang Harus Diterima
Gagasan Stoicism yang paling terkenal adalah “dikotomi kendali”. Sederhananya, berbagai hal dalam hidup bisa dibagi menjadi dua kelompok.
Hal pertama adalah sesuatu yang dapat kita kendalikan, seperti pikiran, pilihan, tindakan, usaha, dan cara merespons keadaan.
Hal kedua adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan, seperti pendapat orang lain, masa lalu, cuaca, hasil akhir, dan kejadian yang tidak terduga.
Banyak stres muncul ketika kita memaksa ingin mengendalikan kelompok kedua. Padahal, tanggung jawab utama kita berada pada usaha dan respons yang kita pilih—bukan pada seluruh hasil yang terjadi.
Stoicism juga mengajarkan empat nilai utama, yaitu kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri. Jadi, tujuannya bukan hanya merasa tenang, tetapi juga mampu bertindak dengan benar.
Mulai dari Hal-Hal Kecil
Bayangkan kita sudah mempersiapkan presentasi dengan baik, tetapi atasan tetap memberikan kritik. Kita tidak dapat mengendalikan penilaiannya, tetapi kita bisa memilih untuk mendengarkan, mengambil masukan yang berguna, dan memperbaiki presentasi berikutnya.
Saat terjebak macet, mengomel tidak akan membuat kendaraan bergerak lebih cepat. Kita dapat menerima situasinya, memberi kabar jika akan terlambat, lalu menggunakan waktu untuk mendengarkan musik atau podcast.
Stoicism juga dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana:
- Berhenti sejenak sebelum membalas pesan yang memancing emosi.
- Bertanya, “Apakah hal ini berada dalam kendali saya?”
- Menulis jurnal tentang respons yang masih bisa diperbaiki.
- Mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan buruk tanpa terus mencemaskannya.
- Menilai diri berdasarkan usaha dan tindakan, bukan hanya hasil akhir.
Jika Semua Hal Terus Dibawa ke Pikiran
Tanpa kemampuan membedakan hal yang bisa dan tidak bisa dikendalikan, kita lebih mudah merasa cemas, marah, kecewa, dan menyalahkan keadaan. Energi terkuras untuk memikirkan komentar orang lain, kesalahan masa lalu, atau kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Kita juga bisa mengambil keputusan secara impulsif karena langsung bereaksi mengikuti emosi. Hubungan berisiko terganggu, masalah kecil terasa lebih besar, dan hidup seakan dikendalikan oleh keadaan serta perilaku orang lain.
Meski demikian, Stoicism bukan satu-satunya cara menjalani hidup dan bukan pengganti bantuan profesional untuk masalah kesehatan mental. Filosofi ini lebih tepat digunakan sebagai salah satu alat untuk menghadapi tekanan sehari-hari.
Tenang Bukan Berarti Menyerah
Stoicism tidak mengajarkan kita untuk menekan emosi atau pasrah tanpa berusaha. Filosofi ini mengajak kita menerima kenyataan dengan jernih, melakukan yang terbaik, dan tidak menggantungkan ketenangan pada sesuatu yang berada di luar kendali.
Saat menghadapi masalah, mulailah dengan satu pertanyaan: “Bagian mana dari situasi ini yang masih bisa saya kendalikan?”
Setelah menemukannya, arahkan perhatian dan tenaga ke sana. Lakukan yang terbaik dalam prosesnya, terima bahwa hasil tidak selalu sesuai harapan, lalu ambil pelajaran dari pengalaman tersebut.
Kita mungkin tidak bisa mengatur semua yang terjadi, tetapi kita selalu bisa belajar memilih cara terbaik untuk menghadapinya.