Ungkapan "That which does not kill us, makes us stronger" memiliki akar sejarah yang merujuk pada aforisme filsuf eksistensialis Jerman, Friedrich Nietzsche, dalam karyanya pada tahun 1888 yang berjudul Twilight of the Idols (Götzen-Dämmerung). Secara historis, frasa asli bahasa Jermannya, "Was mich nicht umbringt, macht mich stärker", lahir dari pergulatan pribadi Nietzsche melawan penyakit kronis dan penderitaan fisik yang menyiksanya, menjadikannya sebuah deklarasi perlawanan terhadap keputusasaan. Secara filosofis, kalimat ini merepresentasikan gagasan mendalam tentang ketahanan (resiliensi) dan dorongan untuk mencapai potensi tertinggi (Übermensch), di mana penderitaan, kesulitan, dan trauma tidak dipandang sebagai sebuah akhir yang menghancurkan, melainkan sebagai kawah candradimuka yang mutlak diperlukan untuk membentuk karakter dan memperdalam kapasitas mental manusia; karena setiap penderitaan ekstrem yang berhasil dilampaui pada akhirnya akan memaksa seseorang untuk beradaptasi, berevolusi, dan mewariskan lapisan ketangguhan jiwa yang baru.